Jakarta - Peusijuek merupakan tradisi
adat Aceh yang mengandung makna doa, rasa syukur, dan harapan akan keselamatan
serta keberkahan. Melalui kegiatan ini, masyarakat Aceh turut mendoakan agar
para putra daerah yang mendapat kepercayaan mengemban amanah di tingkat
nasional senantiasa diberikan kesehatan, kelancaran, dan kesuksesan dalam
menjalankan tugas serta pengabdian kepada bangsa dan negara.
Acara Peusijuk tersebut digelar sebagai
ungkapan rasa syukur sekaligus doa bersama bagi tiga tokoh asal Aceh, sedianya
hadir Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Sugiono
dan serta Wakil Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Fadli Tri Hartono. Keduanya
berhalangan hadir karena agenda lain dan menyampaikan terima kasih dan
apresiasi atas penyelenggaraan acara peusijuek dan tasyakuran tersebut.
Terpilihnya Dr. (Cand) Tgk. H Khaidir
Abdurrahman, S.IP., M.A.P., CRGP sebagai anggota BPK RI membawa angin segar
sekaligus kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Aceh. Ayahwa menegaskan bahwa
pencapaian ini membuktikan bahwa putra-putri Aceh memiliki kapasitas besar
untuk bersaing dan berkontribusi dalam pembangunan nasional. Lebih dari itu,
kehadiran anak Aceh di BPK RI diharapkan mampu mendorong terciptanya tata
kelola keuangan negara yang jauh lebih transparan dan akuntabel.
Dr. (Cand) Tgk. H Khaidir Abdurrahman,
S.IP., M.A.P., menjalani prosesi adat peusijuek (tepung tawar) dan Tasyakuran sebagai
wujud tasyakuran atas amanah barunya sebagai anggota Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK) Republik Indonesia. Acara khidmat dan penuh kekeluargaan ini
diselenggarakan di Aula Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA), Jalan RP
Soeroso, Menteng, Jakarta, pada Minggu (11/8/2026).
Prosesi peusijuek dipimpin langsung oleh sejumlah tokoh penting Aceh, di
antaranya Wakil Gubernur Aceh H. Fadhlullah, SE., ulama kharismatik Aceh Tgk.
Tu Bulqaini, Ketua MAA Perwakilan Aceh Surya Darma, Ketua Diaspora Global Aceh
Mustafa Abubakar, serta tokoh perempuan Aceh Pocut Haslinda.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut para kepala daerah dan tokoh nasional asal
Aceh, seperti Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M (Ayah Wa), Wakil Bupati Aceh Timur Teuku
Zainal Abidin, S.Pd.I., M.H., Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria, pengusaha
sukses DR. Ismail Rasyid, SE., M.MTr Trans Continent, serta ratusan
warga Aceh di Jabodetabek yang hadir untuk memberikan doa dan ucapan selamat.
Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah, SE., dalam sambutannya menyampaikan
apresiasi serta ucapan selamat atas terpilihnya Khaidir Abdurrahman sebagai
anggota BPK RI. Ia berharap kehadiran putra daerah di lembaga pemeriksa
keuangan negara ini dapat memperkuat komunikasi yang konstruktif dengan
pemerintah.
”Pemerintah berharap BPK terus membangun komunikasi yang baik dengan
pemerintah,” pesan Wagub.
Selain itu, Wagub juga memaparkan kondisi terkini Aceh yang sedang berada
dalam masa rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi.
Pemerintah pusat dan daerah saat ini mengelola alokasi anggaran hampir Rp60
triliun selama tiga tahun untuk mengejar ketertinggalan dan memperbaiki
berbagai kerusakan infrastruktur.
Dalam pemaparannya, Wagub merincikan beberapa tantangan pemulihan
infrastruktur di Aceh:
Sungai: Terdapat 414 sungai di Aceh, di mana 70 di antaranya masih mengalami
pendangkalan yang tersebar di berbagai kabupaten, termasuk salah satunya di
kawasan Langkahan, Aceh Utara.
Jembatan: Dari total 405 jembatan rusak, sebanyak 202 jembatan sedang
dikerjakan oleh TNI dan 70 jembatan lainnya dalam proses pengerjaan.
Infrastruktur Jalan: Tercatat ada sekitar 2.500 titik jalan yang mengalami
putus total dan memerlukan penanganan segera.
Wakil Gubernur Aceh, H. Fadhlullah,
berharap masyarakat Aceh di Jakarta senantiasa menjaga kekompakan dan
mempererat tali silaturahmi, meskipun berada jauh dari kampung halaman.
“Semoga masyarakat Aceh di Jakarta tetap
kompak, saling mendukung, dan terus menjaga silaturahmi. Di mana pun kita
berada, kita tetap bersaudara dan memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga
nama baik serta berkontribusi bagi kemajuan Aceh,” demikian harapan dalam
semangat kebersamaan masyarakat Aceh di perantauan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan hubungan kekeluargaan antara para tokoh,
pejabat, dan masyarakat Aceh di Jakarta semakin erat.
Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria, yang turut hadir memberikan sambutan,
menyampaikan rasa bangga dan harapannya agar kehadiran Khaidir Abdurrahman di
BPK RI dapat semakin memperkuat kinerja lembaga tersebut dalam mengawal tata
kelola keuangan negara.
Khaidir Abdurrahman pernah duduk di DPR RI pada tahun 2014 (Komisi IX
membidangi tenaga kerja, transmigrasi, kependudukan, hingga kesehatan),
menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas terselenggaranya tradisi peusijuek
bagi dirinya.
”Ini adalah bagian dari adat istiadat kita di Aceh. Saya mohon doa dari
seluruh masyarakat agar dapat mengemban tugas negara ini dengan
sebaik-baiknya,” ujar Khaidir.
Yunidar ZA, penulis buku Perang dan Damai, yang turut hadir dalam acara
tersebut menambahkan bahwa tradisi peusijuek merupakan bagian dari kearifan
lokal (local wisdom) untuk merajut perdamaian, menyatukan persepsi, serta
memanjatkan doa bersama.
”Selamat melaksanakan tugas kepada Dr. Tgk. Khaidir sebagai Anggota BPK RI.
Semoga ini memberikan harapan baru bagi tata kelola keuangan di seluruh
Indonesia ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem
ketatanegaraan Indonesia yang memiliki wewenang memeriksa pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan negara.
Ketua Panitia Peusijuek Zulkifli Ibrahim menyampaikan terima kasih kepada para
tokoh dan warga Aceh yang telah memenuhi undangan panitia. “Kami segenap
panitia menyampaikan apresiasi bahwa seluruh rangkaian acara Peusijuek berjalan
dengan baik,” kata Zulkifli Ibrahim.
“Melalui
kegiatan ini, diharapkan hubungan kekeluargaan antara tokoh, pejabat, dan
masyarakat Aceh di Jakarta semakin erat. Kebersamaan tersebut diharapkan
menjadi modal sosial untuk menjaga persatuan serta mendorong kontribusi nyata
bagi kemajuan Aceh dan Indonesia,” pungkasnya
Upacara Peusijuek juga diisi dengan tausyiah oleh Tgk H Tu Bulqaini Tanjongan dan
ditutup dengan. Makan siang bersama dengan sajian makanan khas Aceh.




