Baca Juga

Selasa, 16 Juni 2026

Aceh Raih Kategori "TANGGAP” Dalam Indeks Kota Tanggap Ancaman Narkoba

BY GentaraNews IN


Banda Aceh – Program Kota Tanggap Ancaman Narkoba (KOTAN) merupakan salah satu strategi nasional yang dijalankan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk memperkuat kapasitas daerah dalam menghadapi ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika secara terintegrasi. Program ini tidak hanya menitikberatkan pada aspek penegakan hukum, tetapi juga pada penguatan ketahanan masyarakat mulai dari lingkungan keluarga hingga komunitas.

Kepala BNN Provinsi Aceh, Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., menyampaikan bahwa, "berdasarkan hasil pengukuran Indeks Kota Tanggap Ancaman Narkoba (IKOTAN) Tahun 2025, Provinsi Aceh memperoleh nilai 3,19 dan berada pada kategori “Tanggap”. Capaian tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah Aceh bersama seluruh pemangku kepentingan telah memiliki kesiapsiagaan, kapasitas, komitmen, serta sinergi yang baik dalam mendukung pelaksanaan Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN)," demikian penjelasanya menjawab pertanyaan redaksi melaui pesan Whatapps. Rabu (17 Juni 2026)

“Capaian ini merupakan hasil kerja sama seluruh pihak dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap ancaman narkoba melalui berbagai program yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujar Dedy Tabrani.

Keberhasilan tersebut didukung oleh berbagai program strategis yang telah dilaksanakan BNNP Aceh. Pada aspek Ketahanan Keluarga, BNNP Aceh secara aktif memberikan edukasi kepada masyarakat agar keluarga mampu mengenali tanda-tanda penyalahgunaan narkoba, membangun komunikasi yang sehat dengan anak, serta menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan protektif. Program ini dilaksanakan melalui sinergi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong Aceh serta berbagai mitra terkait.

"Dalam aspek Pemberdayaan Masyarakat, BNNP Aceh telah membentuk dan membina Relawan Anti Narkoba yang berasal dari berbagai unsur, seperti pemuda, mahasiswa, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Para relawan tersebut menjadi perpanjangan tangan BNN dalam menyebarluaskan informasi dan edukasi P4GN hingga ke tingkat gampong. Di Aceh, relawan ini dikenal dengan sebutan Pageu Gampong, yang berperan sebagai garda terdepan dalam mencegah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di lingkungan masyarakat," jelasnya lebih lanjut.

Selain upaya pencegahan, BNNP Aceh juga terus memperkuat layanan rehabilitasi melalui program Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM). Program rehabilitasi berbasis komunitas ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung proses pemulihan penyalahguna narkoba. Dalam implementasinya, masyarakat adat menjadi salah satu kekuatan utama karena memiliki nilai-nilai sosial, kepedulian, dan solidaritas yang kuat dalam mendukung rehabilitasi serta reintegrasi sosial penyalahguna narkoba.

Sejak tahun 2021, BNNP Aceh telah membentuk 77 unit IBM yang tersebar di 10 kabupaten/kota di Aceh. Keberhasilan program ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya yang secara aktif mendukung upaya rehabilitasi berbasis komunitas.

"Melalui program Kawasan Bersih Narkoba (BERSINAR), BNNP Aceh terus mendorong terciptanya lingkungan yang tangguh terhadap ancaman narkoba melalui penguatan regulasi lokal, edukasi berkelanjutan, pengawasan partisipatif, serta kolaborasi lintas sektor. Program ini dikembangkan di berbagai lingkungan strategis, seperti gampong, sekolah, kampus, instansi pemerintah, lingkungan kerja, dan kawasan lain yang memiliki tingkat kerawanan narkoba," tambah Dedy Tabrani

"Khusus di Aceh, implementasi Program BERSINAR diperkuat oleh keberadaan reusam gampong yang berfungsi sebagai instrumen kontrol sosial dalam masyarakat. Dukungan para keuchik, tuha peut, tokoh agama, tokoh adat, serta seluruh elemen masyarakat menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, produktif, dan bersih dari narkoba," tegas Dedy Tabrani

"Melalui sinergi yang kuat antara BNNP Aceh, Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten/kota, serta seluruh komponen masyarakat, diharapkan ketahanan masyarakat terhadap ancaman narkoba semakin meningkat. Kolaborasi ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Aceh yang aman, kondusif, dan memiliki daya tahan yang kuat terhadap ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika secara berkelanjutan," pungkas Kepala BNN Propinsi Aceh. (LEP)

Minggu, 14 Juni 2026

Menjaga "Bara" Keacehan di Negeri Paman Sam dan Kanada: Catatan Silaturahmi Diaspora Global Aceh ke Seattle, Vancouver dan Calgary

BY GentaraNews

SEATTLE & VANCOUVER — Jarak ribuan kilometer dari tanah kelahiran bukanlah penghalang bagi semangat dan identitas keacehan untuk terus hidup dan berkembang. Antara tanggal 3 hingga 7 Juni 2026, Sekretaris Jenderal DPP DGA, Dr. Surya Darma, melaksanakan kunjungan kerja dan silaturahmi ke kota Seattle di Amerika Serikat, serta Vancouver dan Calgary di Kanada.


Kunjungan ini memiliki makna mendalam, bukan sekadar pertemuan rutin organisasi, melainkan sebuah misi budaya dan persaudaraan. Tujuannya adalah mempererat ikatan, menjaga nilai-nilai adat, tradisi, bahasa, serta ajaran agama, khususnya bagi warga keturunan Aceh yang kini telah menjadi warga negara setempat, namun tetap memelihara rasa cinta dan keterikatan mendalam terhadap Serambi Mekkah.

Tiga Generasi yang Tetap Berjati Diri di Seattle

Di kota Seattle, komunitas asal Aceh telah berdiri kokoh selama puluhan tahun, bahkan kini telah melahirkan generasi ketiga yang lahir dan besar di Amerika Serikat. Meski hidup di lingkungan yang berbeda, mereka tetap setia memegang teguh ajaran Islam dan warisan budaya leluhur.

Dua tokoh utama yang menjadi tulang punggung komunitas ini adalah Adron Razi Yusuf (Ketua DGA Sagoe Amerika) dan Fauzi Daud (General Manager Holland America Lines), keduanya berasal dari Bireuen. Keberhasilan mereka mendidik anak cucu hingga ada yang menjabat sebagai Imam di Seattle — Ustadz Syarif, putra Adron Razi — serta menduduki posisi penting di perusahaan pelayaran internasional, membuktikan bahwa putra-putri Aceh mampu berprestasi di kancah global tanpa melupakan jati diri.

Gagasan Strategis untuk Kemajuan Aceh

Komunitas DGA Sagoe Amerika tidak hanya berkumpul untuk menjaga persaudaraan, tetapi juga aktif mengamati perkembangan di tanah air. Dalam diskusi dengan Dr. Surya Darma, mereka menyampaikan keprihatinan terhadap berbagai tantangan yang dihadapi Aceh, mulai dari perubahan pola hidup masyarakat hingga keterbatasan akses layanan kesehatan.




Dari kegelisahan tersebut, lahirlah dua program strategis yang siap dijalankan:

Reaktivasi Pusat Pelatihan Perhotelan dan Kapal (ITHC)

Program International Training and Hospitality Center yang sempat dirintis bersama Universitas Syiah Kuala dan Pemerintah Aceh, sempat terhambat karena keterbatasan dana. Padahal kebutuhan tenaga kerja profesional di bidang perhotelan, pariwisata, dan pelayaran mencapai 180.000 orang di seluruh dunia.

Fauzi Daud kini sedang menyusun kurikulum dan mencari tenaga pengajar berstandar internasional. Program ini diharapkan didukung oleh Pemerintah Aceh dalam hal pendanaan, sedangkan pengelolaan mutu dan penempatan kerja akan ditangani langsung oleh praktisi berpengalaman agar lulusan Aceh dapat bersaing di pasar global.

Kedaulatan Pangan Melalui Rumah Pangan Aceh (RPA)

Untuk memperkuat ketahanan pangan, komunitas mengusulkan konsep Rumah Pangan Aceh. Program ini bertujuan membina petani dari hulu hingga hilir, memutus rantai penekanan harga oleh tengkulak, serta meningkatkan nilai jual hasil bumi.

Sebagai percontohan, RPA telah membina 40 petani di Banda Aceh dan sekitarnya. Salah satu produk unggulannya adalah tempe berbahan kacang koro, yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada kedelai impor. Ke depannya, akan disusun tata kelola yang jelas dan transparan agar program ini berkelanjutan.

Meunasah Aceh: Benteng Budaya di Kanada

Perjalanan dilanjutkan ke Vancouver, tempat berdirinya Meunasah Aceh Vancouver di bawah naungan Achehnese Canadian Community Society. Di kota ini tinggal sekitar 500 jiwa keturunan Aceh, hampir semuanya telah menjadi warga negara Kanada dari generasi pertama hingga ketiga.

Meunasah berfungsi sebagai pusat kegiatan ibadah, tempat belajar bahasa dan budaya, serta wadah melestarikan seni tari, pakaian adat, dan kuliner khas. Selain itu, tempat ini juga menjadi titik kumpul untuk menggalang bantuan kemanusiaan ketika Aceh mengalami musibah.

Sinergi Lintas Benua

Dalam kunjungan ini, Adron Razi Yusuf mendampingi penuh perjalanan Sekjen DGA dari Seattle hingga ke Kanada. Di sana, penyambutan hangat diberikan oleh Muhammad Taufik Evendi, Ketua DGA Sagoe Kanada yang berdomisili di Calgary.

Melalui koordinasi yang baik, seluruh warga Aceh di berbagai wilayah Kanada, termasuk di Toronto, dapat terhubung baik secara langsung maupun daring. Rangkaian pertemuan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.



Penutup: Semangat yang Tak Pernah Padam

Dr. Surya Darma mengapresiasi dedikasi seluruh pengurus dan anggota komunitas di Amerika dan Kanada. “Jauh dari tanah air, mereka justru menjaga identitas lebih erat dan terus berusaha memberikan manfaat bagi kemajuan Aceh. Ini adalah bukti nyata bahwa ikatan persaudaraan tidak terhalang jarak,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada semua tokoh yang terlibat dan berdoa semoga semua upaya ini membawa keberkahan.

“Sejauh apa pun kami merantau, paspor apa pun yang kami pegang, darah dan hati ini tetap milik Aceh. Meunasah, Rumah Pangan, dan jaringan DGA adalah tempat kami menjaga agar bara semangat keacehan tetap menyala terang,” pungkasnya.



Oleh: Dr. Ir. Surya Darma, MBA

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Diaspora Global Aceh (DPP DGA) & Ketua Majelis Adat Aceh Perwakilan Jakarta

Jumat, 12 Juni 2026

Propinsi Riau Layak Menjadi Daerah Istimewa

BY GentaraNews IN




Persatuan Masyarakat Riau Indonesia (PMRI) sebagai wadah masyarakat Riau diperantauan sudah tersebar anggotanya lebih dari 2.000.000 orang diseluruh Indonesia hingga luar negeri dengan semangat “Raga Di Rantau, Jiwa Di Riau”, melaksanakan kegiatan Dialog Kebangsaan dengan Tema “Riau Istimewa Untuk Indonesia”. Acara ini berlangsung di Gedung Sriwijaya DPR RI, Senayan. Jakarta. Jum’at (12 Juni 2026).



Acara ini di hadiri oleh Tokoh-tokoh masyarakat Riau, Perwakilan Gubernur Dr. Syahrial Abdi, A.P., M. Si, Anggota Komisi XDPR RI - Dr. Hj. Karmila Sari, S.Kom., M.M, Hanief Arif, MA. Ph.D (BRIN), Ketua Umum PMRI, Dr. H. Rusli Effendi, S.Pd.I., SE., M.Si, Sekretaris Jenderal PMRI, Dr. (HC) H. Munasir Ma'adab, SE., M.Si, Prof. Dr. H. Alfitra Salam, M.Si APU (Ahli Peneliti Utama dan Guru Besar), Dr. H. Farhat Abbas, M.H (Advokat dan Praktisi Hukum Nasional), Stephanie irana Pasaribu, P.Si., M.Phil., Ph.D (Direktur PT.Bumi Pulih Lestari), Indra Bayu, S.E., M. Si (Kepala Cabang BRK Syariah), Syarifah (Kepala Anjungan Riau, TMII), Datuk Seri H. Raja Marjohan Yusuf. (Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Datuk Zainal Abidin Is, SH,. MH 9ketua LAM Jambi Perwakilan khusus DKI Jakarta), Drs.H.R.Mambang MIT (Ketua Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau), Anggota DPD RI H Abdul Hamid, Anggota DPD RI Sawitri, perwakilan mahasiswa Riau dan anggota Persatuan Masyarakat Riau Indonesia. Acara ini di buka oleh Sekda Propinsi Riau Dr. Syahrial Abdi, A.P., M. Si.



Dalam sambutannya Ketua Umum Persatuan Masyarakat Riau Indonesia (PMRI) Dr. H. Rusli Effendi, S.Pd.I., SE., M.Si, menyampaikan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang hadir, terutama kepada Sekda Propinsi Riau dan adik adik mahasiswa.

Ketua Umum Persatuan Masyarakat Riau Indonesia juga memaparkan bahwa Riau memiliki banyak potensi dan keunggulan yang dapat menjadi modal besar untuk mendorong kemajuan daerah. Mulai dari sumber daya alam, budaya, hingga sektor pendidikan dan pariwisata, semuanya perlu didukung dengan kebijakan yang tepat dan berkelanjutan.

“Mahasiswa kalian sebagai sponsor perubahan dan Spririt Of Change, jadi lah motivator bukan provokator,” tegas Rusli Effendi

Kita hari ini dihadapkan pada ironi besar dan menyakitkan, dimana Riau menyumbangkan begitu banyak minyak bumi dan kelapa sawit tetapi rakyatnya

Mari kita berjuang agar Riau menjadi daerah Istimewa, karena Riau sangat layak menjadi daerah Istimewa, perjuangan ini adalah harga diri yang tidak akan mundur satu jengkalpun” jelas Rusli Effendi

“Raga Di Rantau, Jiwa Di Riau,” pekik Rusli Effendi Menutup sambutannya.



Dalam sambutan nya Sekda Propinsi Riau Dr. Syahrial Abdi, A.P., M.Si. Diskusi ini bukan sekadar seremonial, melainkan langkah nyata untuk memetakan potensi daerah mulai dari ekonomi kreatif, UMKM, hingga pemanfaatan sumber daya alam. Kita ingin memastikan bahwa ide-ide segar dari generasi muda hari ini bisa bertransformasi menjadi kebijakan yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan seluruh masyarakat Riau,” jelasnya

Hadir sebagai narasumber dalam Dialog Kebangsaan ini antara lain; Dr. Hj. Karmila Sari, S.Kom., M.M, Dr. H. Farhat Abbas, M.H, Dr. Ir. H. M. Idris Laena, MH, sementara moderator oleh Rakhmad Rahadian, S. Ip dari Kemendagri.  (LEP)



Kamis, 11 Juni 2026

BNN RI Anjangsana Kepada Ahwil Loethan

BY GentaraNews IN


Sekretaris Utama BNN, Tantan Sulistyana, didampingi para Direktur di lingkungan Badan Narkotika Nasional, melaksanakan kegiatan anjangsana kepada Kepala BNN pada masanya dan Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) pertama, Komjen Pol. (Purn.) Ahwil Loethan, Rabu, 10 Juni 2026.

Kunjungan silaturahmi ini digelar dalam rangka menyambut Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026 yang diperingati setiap tanggal 26 Juni. Kegiatan ini merupakan wujud penghormatan dan penghargaan kepada para tokoh pendiri serta pemimpin terdahulu yang telah meletakkan fondasi kuat dalam perjuangan pemberantasan narkoba di Indonesia.

Semangat dan dedikasi para pendahulu menjadi inspirasi bagi seluruh insan BNN untuk terus berjuang melindungi bangsa dari bahaya. (*)

Kepala BNN RI Anjang Sana Kepada Budi Waseso

BY GentaraNews IN ,



Menyambut peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026, Badan Narkotika Nasional (BNN) melaksanakan kegiatan Anjangsana Kepala BNN RI Pada Masanya sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada para pemimpin terdahulu yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan institusi. Melalui kegiatan ini, BNN berupaya menjaga tali silaturahmi sekaligus mewariskan nilai-nilai pengabdian, kepemimpinan, dan dedikasi kepada generasi penerus.


Rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu (10/6), melalui kunjungan kepada Kepala BNN RI periode 2015–2018, Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Budi Waseso, di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pramuka, Depok, Jawa Barat. Kunjungan dipimpin langsung oleh Kepala BNN RI Suyudi Ario Seto, didampingi Deputi Pemberantasan BNN RI Aswin Sipayung, Kepala Biro Perencanaan Settama BNN Mardiharto Tjokrowasito, serta Kepala Bagian Rumah Tangga Settama BNN Didik Hariyanto.



Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, Budi Waseso berbagi pengalaman selama memimpin BNN sekaligus menceritakan kiprahnya setelah memasuki masa purnatugas. Sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Ia menilai bahwa Pramuka merupakan investasi pengabdian untuk membangun generasi muda yang berkarakter, disiplin, dan memiliki semangat kebangsaan yang kuat.

Lebih lanjut, Budi Waseso menyampaikan apresiasinya terhadap rencana pembentukan Satuan Karya Pramuka Bersih Narkoba (Saka Bersinar). Menurutnya, kehadiran Saka Bersinar dapat menjadi sarana strategis untuk menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, kedisiplinan, serta kesadaran bahaya narkoba kepada generasi muda sejak dini.

Ia menuturkan bahwa prinsip hidupnya, komitmen, konsekuen, dan konsisten, merupakan nilai yang diwariskan orang tuanya dan hingga kini masih menjadi pedoman dalam menjalankan setiap amanah yang diberikan negara. Nilai tersebut menjadi landasan dalam perjalanan pengabdiannya, baik saat memimpin BNN, menjalankan berbagai penugasan negara, maupun ketika terus berkontribusi melalui Gerakan Pramuka.

Dalam kesempatan tersebut, Budi Waseso juga mengenang berbagai pengalaman selama memimpin BNN pada periode 2015 hingga 2018. Beragam tantangan yang dihadapi dalam upaya pemberantasan narkotika, menurutnya, semakin menguatkan keyakinan bahwa pembangunan sumber daya manusia yang berintegritas harus menjadi perhatian bersama.

Kegiatan anjangsana ditutup dengan penyerahan cendera mata sebagai simbol penghormatan dan apresiasi atas dedikasi serta pengabdian yang telah diberikan kepada institusi dan bangsa Indonesia.

Melalui kegiatan Anjangsana Kepala BNN RI Pada Masanya, BNN berharap semangat perjuangan, integritas, dan keteladanan para pendahulu dapat terus menjadi inspirasi bagi seluruh insan BNN dalam menjalankan tugas melindungi masyarakat dari ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Semangat dan dedikasi para pendahulu tersebut menjadi bekal berharga bagi BNN dalam melanjutkan perjuangan mewujudkan Indonesia Bersinar (Bersih Narkoba).

Menyambut peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026, Badan Narkotika Nasional (BNN) melaksanakan kegiatan Anjangsana Kepala BNN RI Pada Masanya sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada para pemimpin terdahulu yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan institusi. Melalui kegiatan ini, BNN berupaya menjaga tali silaturahmi sekaligus mewariskan nilai-nilai pengabdian, kepemimpinan, dan dedikasi kepada generasi penerus.

Rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu (10/6), melalui kunjungan kepada Kepala BNN RI periode 2015–2018, Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Budi Waseso, di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pramuka, Depok, Jawa Barat. Kunjungan dipimpin langsung oleh Kepala BNN RI Suyudi Ario Seto, didampingi Deputi Pemberantasan BNN RI Aswin Sipayung, Kepala Biro Perencanaan Settama BNN Mardiharto Tjokrowasito, serta Kepala Bagian Rumah Tangga Settama BNN Didik Hariyanto.

Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, Budi Waseso berbagi pengalaman selama memimpin BNN sekaligus menceritakan kiprahnya setelah memasuki masa purnatugas. Sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Ia menilai bahwa Pramuka merupakan investasi pengabdian untuk membangun generasi muda yang berkarakter, disiplin, dan memiliki semangat kebangsaan yang kuat.

Lebih lanjut, Budi Waseso menyampaikan apresiasinya terhadap rencana pembentukan Satuan Karya Pramuka Bersih Narkoba (Saka Bersinar). Menurutnya, kehadiran Saka Bersinar dapat menjadi sarana strategis untuk menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, kedisiplinan, serta kesadaran bahaya narkoba kepada generasi muda sejak dini.

Ia menuturkan bahwa prinsip hidupnya, komitmen, konsekuen, dan konsisten, merupakan nilai yang diwariskan orang tuanya dan hingga kini masih menjadi pedoman dalam menjalankan setiap amanah yang diberikan negara. Nilai tersebut menjadi landasan dalam perjalanan pengabdiannya, baik saat memimpin BNN, menjalankan berbagai penugasan negara, maupun ketika terus berkontribusi melalui Gerakan Pramuka.

Dalam kesempatan tersebut, Budi Waseso juga mengenang berbagai pengalaman selama memimpin BNN pada periode 2015 hingga 2018. Beragam tantangan yang dihadapi dalam upaya pemberantasan narkotika, menurutnya, semakin menguatkan keyakinan bahwa pembangunan sumber daya manusia yang berintegritas harus menjadi perhatian bersama.

Kegiatan anjangsana ditutup dengan penyerahan cendera mata sebagai simbol penghormatan dan apresiasi atas dedikasi serta pengabdian yang telah diberikan kepada institusi dan bangsa Indonesia.

Melalui kegiatan Anjangsana Kepala BNN RI Pada Masanya, BNN berharap semangat perjuangan, integritas, dan keteladanan para pendahulu dapat terus menjadi inspirasi bagi seluruh insan BNN dalam menjalankan tugas melindungi masyarakat dari ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Semangat dan dedikasi para pendahulu tersebut menjadi bekal berharga bagi BNN dalam melanjutkan perjuangan mewujudkan Indonesia Bersinar (Bersih Narkoba). (*)

Tutorial BloggingTutorial BloggingBlogger Tricks

Baca Juga